CERITA INSPIRASI

Posted on September 16th, 2010 in Academic by asep.suryadi8710

Niat Yang Salah

Ada seorang anak lelaki yang sebentar lagi akan menjalani hidupnya yang baru sebagai mahasiswa. Ia pun merasa sangat cemas dan takut saat tiba waktunya nanti untuk meninggalkan keluarganya. Maklum saja dikeluarganya sekarang hanya tinggal ibu dan kakaknya saja. Ayah dari anak tersebut telah meninggal dunia dikarenakan sakit. Ayahnya berpesan untuk menjaga ibu dan kakaknya. Dan kelak anak tersebut akan menjadi pemimpin yang baru dalam keluarga tersebut.

Akhirnya saat yang paling tidak ingin ia lalui pun datang. Di minggu-minggu awal sebagai mahasiswa, ia sangat tidak nyaman selalu terpikir keadaan dirumah. Dilubuk hatinya yang paling dalam ia ingin sekali bertemu dan membantu keluarganya. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu waktu liburan. Yang artinya ia bisa pulang dan bertemu keluarganya.

Sesampainya dirumah, hati anak tersebut berkata lain yang seharusnya bahagia malah berubah menjadi takut dan cemas. Kemudian ia menyadari bahwa hal ini dikarena niat kembalinya kerumah bukan karena ingin membantu ibu dan kakaknya, tetapi ingin hanya diperhatikan keluarganya. Itu wajar, karena adalah anak itu cukup manja.

Ia pun mencoba mengusir perasaan tidak mengenakkan tersebut agar hatinya bisa tenang kembali. Dan ia pun sekarang tahu kalau ia harus mengubah perilakunya. Kemudian ia pun membulatkan tekad bahwa niatnya kuliah untuk membahagiakan keluarganya. Bagaimana ia mau sukses kalau sebentar-sebentar ingin dimanja dan selalu kangen dengan ibu dan kakaknya. Segala sesuatu pasti butuh pengorbanan.

Antara Orangtua dan Impian

Pada suatu hari ada seorang anak perempuan yang cita-citanya ingin sekali menjadi seorang guru. Dia memang pintar dan membuat bakat untuk menjadi seorang guru. Selain aktif pada saat sekolah, dia juga suka membantu mengajari temannya jika temannya ada yang mengalami kesulitan dalam hal pelajaran.

Dan sekarang ia sudah menginjakkan kakinya di kelas XII. Sudah saat ia harus memilih Univertas mana yang akan membantunya mencapai impiannya tersebut. Pada awalnya memang semua lancar-lancar saja dan sesuai perhitungan anak perempuan tersebut. Tapi ternyata orangtuanya tidak menyetujui rencananya. Ia dipaksa untuk menjadi seorang dokter, dengan alasan kelak jika ia menjadi seorang dokter hidupnya nanti akan bahagia.

Ia pun sangat bingung dan merasa sangat kesal kepada orangtuanya, karena ini sangat tidak adil sekali. Di satu sisi ia ingin sekali menjadi seorang guru yang sudah lama dimimpikannya, tapi di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan orangtuanya yang selama ini telah membiayai sekolahnya. Dengan sangat terpaksa akhirnya ia mengikuti kemauan orangtuanya. Ia harus mengubur cita-citanya yang dimimpikannya sudah lama sedalam mungkin.

Kemudian ia coba ujian masuk ke beberapa Universitas Negeri yang memiliki Jurusan Kedokteran. Dari beberapa ujian yang dijalani ternyata masih tidak mendapatkannya juga. Hanya tinggal satu Universitas lagi yang belum mengumumkan hasil ujiannya. Dengan rasa cemas ia menunggu pengumuman itu, dan akhirnya ia pun diterima di Univertas tersebut. Tapi ada satu masalah, ternyata Universitas tadi berada di Aceh yang sangat jauh dengan rumahnya. Selain Universitasnya sangat jauh dan ia masih mempunyai harapan yang sangat kuat untuk menjadi seorang guru, membuat langkahnya untuk menjadi apa yang dimimpikannya orangtuanya semakin berat saja.

Akhirnya ia berangkat ke Aceh. Baru seminggu tinggal disana rasa rindu kepada orangtua sangat kuat sekali. Ia merasa tidak sanggup menjalani tuntutan orangtuanya. Tapi lama-kelamaan ia mulai menikmati hidupnya yang baru. Dan sepertinya pada saat ia sudah menjadi dokter nanti, ia harus berterima kasih kepada orangtuanya.